Setelah Memberi Setumpuk Uang Ke Anak, Bapak Tua Ini Malah Menghilang Berbulan-bulan. Saat Ditemukan, Ternyata Bapak Itu “Lagi Begini”! Kelanjutannya Bikin Nangis Bombay!

Aku dan Shinta berkenalan saat bekerja di Jakarta. Shinta berasal dari Malajengka, Bogor, sedangkan aku dari desa Balongjeruk, Kediri.

Kami berdua saling jatuh cinta saat bekerja di Jakarta, dan kami sudah berpacaran selama 6 tahun. Kami pun memutuskan untuk menikah dan menetap di ibukota.

Sayangnya sampai saat ini kami masih mengontrak rumah.

Demi membeli rumah baru di Jakarta, aku dan Shinta sudah mati-matian mengumpulkan uang dari berbagai penjuru. Walaupun sudah meminjam uang dari teman dan bank, tetap saja uang yang terkumpul tidak cukup.

Aku menghela napas panjang. Bahkan uang DP saja masih kurang.

Shinta pun tiba-tiba berceletuk,”Kenapa kamu tidak mencari bapakmu saja, bukannya di desa kalian ada sawah dan perkebunan? Tanya ayahmu.”

Aku pun menjawab Shinta bahwa walaupun sawah dan perkebunan dijual, uang penjualan tetap saja tidak cukup. Bapakku bukan orang kaya.

Shinta berkata,”Kamu tidak coba tanya dulu? Ya sudah, biar aku yang bilang ke bapak!”

Beberapa hari kemudian, bapak tiba-tiba menelepon bilang mau mengantar uangnya ke kota, kedengarannya bapak sangat gembira.

Hatiku seperti tertohok dan dalam hati bertanya-tanya, darimana petani desa yang sudah renta ini mendapat uang banyak.

Sejak ibuku meninggal, bapak dengan susah payah membesarkanku, menyekolahkanku sampai SMA.

Saat aku berangkat ke ibukota, bapak menaruh harapan besar terhadapku.

Setiap kali saat mau kembali bekerja ke kota, bapak selalu berpesan kepadaku,”Nak, jagalah diri diluar. Uang itu nggak penting, yang penting kamu selamat dan sehat. Kamu harus kembali yah…”

Tapi aku tidak pernah kembali, bahkan memutuskan untuk menetap di Jakarta. Bapak juga tidak memaksaku pulang ke kampung, beliau hanya bilang asalkan aku bahagia, dia juga bahagia.

Hari itu aku menunggu bapak di depan stasiun Gambir. Sudah kutunggu setengah hari, Bapak tak kunjung datang.

Aku mulai khawatir lalu menelepon saudara di desa. Tapi saudara bilang bapak sudah berangkat 2,3 hari yang lalu. Harusnya hari ini Bapak sampai Jakarta.

Hari kedua pagi-pagi sekali, bapak tiba di depan dirumah. Saat melihatnya, aku terkejut.

Bapak yang dulunya tegap dan gagah kini kelihatan tua dan lemah, keriputnya bertambah banyak, rambut putihnya berantakan dengan serpihan-serpihan daun dan rumput.

Di bahunya tergantung tas selempang kecil dari kulit luar. “Nak, Bapak sudah sampai..” Mendengar suaranya yang rintih, mataku mulai sembap.

Aku mengantar bapak masuk ke rumah, Shinta memasak air lalu menyiapkan sarapan.

Aku mengomeli Bapak kenapa tiba telat sekali. Bapak tertawa sambil berkata,”biaya ke Jakarta mahal, untuk berhemat, aku naik kereta sampai Bekasi saja, lalu jalan kaki ke sini.”

“Lalu, bagaimana dengan sawah dan perkebunan di desa..” Aku bertanya.

Semuanya sudah dijual.” ujar Bapak.

Bapak berdiri dengan susah payah lalu menggunakan tangannya yang penuh kapalan mengeluarkan kantong dari kain merah. Ia membukanya, dan mengeluarkan bergepok-gepok uang kertas di atas meja.

Hanya ini saja yang ku punya sekarang. Cukup tidak? Kalau tidak cukup, biar bapak yang cari cara…

Melihat setumpuk uang itu, mataku mulai sembap lagi, dan akhirnya aku tidak bisa menahan tangisku.

Rumah akhirnya terbeli dan mau direnovasi. Kata bapak, renovasi perlu biaya yang tidak sedikit, membangun rumah tangga juga perlu uang.

Dia mengatakan bahwa dia akan bekerja di desa dan mengirimkan uang setiap bulan untuk keperluan rumah tanggaku.

Begitulah, bapak pun pergi, dan dia mengirim uang setiap bulan dengan kartu ATM yang diberikannya.

Setengah tahun berlalu, rumah baru sudah jadi. Kami mau menjemput bapak untuk tinggal bersama-sama di kota.

Aku pun menelepon ke rumah, tapi saudara di kampung malah mengatakan bahwa bapak sudah tidak pulang berbulan-bulan.

Aku pun bilang bahwa bapak bekerja di pinggir kampung.

Hari kedua, saudaraku menelepon melapor bahwa seluruh desa sudah dicari tapi tidak telihat bayangan bapak. Aku bertanya lagi, lalu bagaimana dengan rumah di desa?

Saudaraku pun berkata bahwa rumahku sudah lama dijual.

Bapak sudah tidak punya rumah, lalu bapak kemana? Bapak tinggal dimana?Ujarku dalam hati.

Hari itu sudah mulai gelap, tapi aku memutuskan untuk mencari bapak.

Aku mengeluarkan kartu ATM dan menelepon customer service menanyakan lokasi bapak. Ternyata Bapak mengirimkannya di bank kota.

Astaga, Bapak bekerja demi anaknya di kota.

Aku pun mencari Bapak di berbagai penjuru. Sampai kemudian tiba di sebuah tempat lokasi proyek bangunan.

Dengan petunjuk dari mandor, aku akhirnya melihat bapak. Saat itu terlihat bayangan bapak yang sedang mengangkut pasir.

Di punggungnya terlihat jelas kulitnya luka terkelupas dan gosong. Uban putihnya diselimuti penuh dengan debu.

Bapak kemudian melihatku, gemetaran lalu bertanya,”Nak, kamu…kamu kenapa datang kesini?”

“Kamu harus tahu, Nak, bapak bisa hidup dimana saja. Jadi jangan kuatir dengan bapak”

Aku diam tak berkata apa-apa, hati terasa sangat perih dan tertohok. Aku berlutut di hadapan Bapak dan meminta Bapak pulang denganku.

Bapak kaget lalu mengangkatku,”Ada apa??Kenapa? Ngomong baik-baik kalau ada masalah.”

Shinta entah dari mana tiba-tiba muncul dan bersamaku menggandeng Bapak. “Mari, ikut kami pulang, Pak”

Bapak akhirnya mencuci tangannya. Dengan memakai baju robeknya yang sudah lapuk, bapak memutuskan pulang denganku.

Sepasang tangannya gemetaran, dan aku melihat jelas air mata Bapak berlinang.

“Iya, ayo pulang. Kita pulang.” Bapak mengangguk pelan.

Tiba-tiba terdengar seruan riuh dan tepuk tangan, sepertinya para tukang bangunan ikut menghantar kepergian Bapak.

Aku memegang erat tangan Bapak, tetesan demi tetesan air mataku sudah berlinang tak berhenti.

Aku berjanji dalam hati, kali ini aku yang akan merawat bapak, membuat bapak bahagia.

 

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *