“Pria Dan Monyet” Ini Saling Membutuhkan Setiap Harinya, Saat Tuannya Meninggal, Monyet Ini Lakukan “Hal Menyayat Hati” Sebagai Balas Budinya!

Sebuah legenda tersebar di daerah Zhe-jiang, Tiongkok tentang seorang pria yang merupakan pengemis dan seekor monyet.

Suatu hari, pria itu pulang dari mengemis dan secara kebetulan ia melihat seekor monyet di kuil. Merasa kasihan, pengemis itu membagi sisa makanan yang didapat kepada monyet tersebut.

 

Seiring berjalannya waktu, monyet sering datang ke kuil dan pengemis pun terus membagikan sisa makanannya. Lalu, pengemis pun berfikir untuk bekerja menjadi topeng monyet.

Akhirnya mereka bekerja sama untuk mengisi perut masing-masing. Dengan uang hasil pertunjukkan topeng monyet, pengemis selalu memberi porsi lebih banyak agar monyet lebih semangat memberikan aksi pertunjukkannya.

Pengemis sangat menyayangi monyet seperti anaknya sendiri. Suasana hangat seperti itu berlangsung puluhan tahun. Hingga suatu hari, pengemis jatuh sakit.

Akhirnya, monyet itu melakukan akrobatnya sendirian di jalanan. Orang-orang melihat monyet itu sangat cerdik dan lucu, seringkali mereka memberinya uang.

Beberapa bulan menderita sakit, pengemis pun meninggal. Monyet menangis pilu dan tak berhenti air matanya berlinang, dia terus mengitari jasad pengemis tua dengan tatapan pilu.

Sehari setelahnya, ia kembali mengemis di pinggir jalan sampai mempunyai beberapa perak uang. Lalu, monyet berlari ke depan toko penjual peti mati dan mengerang sambil memegang uang. Ia sudah berulang kali diusir pemilik toko, namun tetap kembali lagi.

Pemilik toko pun memilih salah satu peti untuknya walaupun uangnya tidak cukup, karena ia melihat keteguhan dari monyet itu. Monyet tak langsung pergi dari toko, ia menahan para pegawai dan menarik pakaian mereka. Mereka terheran-heran, monyet lalu memberikan isyarat agar mengikuti kemana dia pergi sambil membawa peti mati.

Beberapa pekerja mengikuti monyet itu ke kuil tua, mereka lalu membaringkan jasad pengemis ke dalam peti mati dan menguburnya di tanah terpencil.

Beberapa hari kemudian, ia kembali mengemis dan memberikan makanan, barang-barang topeng monyet, lalu dia bersimpuh di depan makam tuannya. Ia terus-terusan menangis di sana.

Kemudian, ia memungut beberapa ranting kering di sekitarnya, dan terbakarlah ranting tersebut. Ia membuang semua barang milik pengemis tua ke dalam api yang berkorbar. Secara tiba-tiba ia pun ikut melompat ke dalam kobaran api tersebut.

Melihat kejadian itu, para penduduk desa hanya bisa menghela napas panjang dan batin mereka bergetar melihat kesetiaan monyet pada tuannya. Mereka pun beramai-ramai mengubur jasad monyet yang terbakar. Mereka menyebutnya “kuburan monyet setia”.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *