Si Adik Pergi ke Kota Cari Kakaknya Pinjam Uang, Malah Diberi Gaun Bekas! Tak Disangka, Dalamnya Tersembunyi “Rahasia” yang Bikin Adik Menangis Haru!

Keluarga Li, bertemu dengan bencana yang ratusan tahun tak pernah datang menghampiri keluarganya. 7 hari 7 malam hujan badai membanjiri ladang mereka, menjadikan ladang padi berubah jadi genangan air.

Sehabis hujan badai ini, semua orang desa sibuk menolong diri mereka sendiri, termasuk keluarga Li. Keluarga Li sangat bersedih hati, karena cabai yang bentar lagi panen, semua terkubur oleh longsor dari lereng gunung menutupi semua ladang mereka.

Dalam keluarga ini, terdapat nenek tua yang berumur 70 tahun dan ada 2 anak yang masih menyusui. Paling memusingkan adalah, mereka juga memiliki dua anak putra, yang satu sudah kuliah tahun ketiga dan yang satunya lagi baru masuk kuliah tahun pertama, semuanya sedang menunggu hasil panen cabai ini untuk membayar uang sekolah mereka, tetapi sekarang bagaimana dong?

“Xiao Cheng! Pergi ke kota, cari kakak perempuanmu, minta tolonglah sama dia”, pasrah ibunya kepada Li Xiao Cheng.

Begitu Xiao Cheng dengar, dalam hatinya langsung gundah, kakaknya demi hidup, begitu tamat kuliah, dia langsung ke kota untuk jadi PRT. Karena cerdas dan cepat kerjanya, dia dijodohkan oleh bosnya dengan putranya dan akhirnya mereka menikah dan tinggal di kota.

Awal pernikahan mereka, dia sering bawa suaminya datang ke rumah, dan pelan – pelan semakin lama dan lama – lama, hanya uang yang dikirimkan ke rumah.

Sampai dengar cerita dari ibunya kalau suaminya sangat protektif, selalu ngeluh keluarga istrinya miskin dan hanya mau uang mereka.

Karena itu, ketika Xiao Cheng dengar kata “kakaknya” itu, dia berpikir, mending gak usah ke sana. Mereka masih memiliki kehormatan daripada uang yang bisa didapatkan tetapi martabat keluarga diinjak – injak, apalagi sudah bertahun – tahun tidak saling bertemu.

Namun beberapa saat kemudian, karena begitu susahnya hidup mereka, Xiao Cheng, mau gak mau harus “Tebelin Muka” untuk cari kakaknya dan kakak iparnya, setidaknya dia ada berusaha.

Menempuh perjalanan sehari penuh dengan mobil, akhirnya dia sampai ke rumah kakaknya. Besar… megah… bersih…, itulah kata – kata yang bisa dia deskripsikan untuk menggambarkan kemewahan rumah kakaknya.

Kakaknya dan suaminya menyambutnya dengan makan malam. Xiao Cheng menjelaskan kondisi keluarga, di depan kakak iparnya. Awalnya kakak iparnya kakaknya memampangkan wajah yang penuh senyum, tiba – tiba berubah warna wajahnya dan berkata,”Xiao Cheng, hidup setiap orang memang susah, beberapa tahun ini bisnis kami semakin lama semakin menurun, keluarga kami juga keluarga yang besar, ada uang atau tidak, kamu tanya kakakmu coba!”

Yang bikin Xiao Cheng kehabisan kata – kata adalah kakaknya berkata seperti ini,”Aku mana ada uang!? Makanya beberapa tahun ini aku gak kirim uang lagi ke mama. Oh iya, ambil baju ini pulang, siapa tahu mama masih bisa pakai. Ini baju pengantin yang mama kasih.”

Kakaknya berkata bajunya dia dapat di lemari ketika lagi bongkar – bongkar baju tua untuk dibuang.

Xiao Cheng melihat sikap kakaknya seperti ini, dia langsung bangkit dari kursi dan mau pergi dari sana! Awalnya dia gak mau ambil baju itu pulang, tapi demi kasih tahu mama dan adiknya apa jadinya kakaknya sekarang, jadi dia ambil bajunya.

 

Li Xiao Cheng pulang, dan lempar baju ini ke hadapan ibunya sambil membentak karna marah,”Ma! Lihat putri kesayanganmu itu! Bukannya pinjem uang, eh malah kasih kain lusuh bekas pernikahan dia seperti ini! Dia mau kamu pakai!”

Adiknya yang turut mendengar, sedih sekaligus marah, tapi beda dengan mamanya. Mamanya tersenyum berkata,”Kakakmu bukan orang seperti itu, dia kasih baju ini, pasti ada maksudnya.”

Mamanya ambil gunting, dan mengoyak – koyakkan baju ini. Xiao Cheng dan adiknya bengong lihat perbuatan mamanya. Kagetnya, dalam baju itu, ada sebuah kantong, yang berisi ratusan juta rupiah dengan sepucuk surat.

Isi suratnya berisi,”Aku tahu rumah lagi kesusahan, jadi aku ambil semua hasil jerih payahku selama ini, aku masukin dalam baju ini. Aku tahu mama pasti tahu maksud aku. Aku begini bukan karena aku takut dengan suamiku, tapi demi aku bisa bertahan di sini dan berjuang untuk keluarga ini.”

Sehabis baca surat yang mengharukan ini, Xiao Cheng yang awalnya sangat marha, akhirnya menangis. Dia bersalah karena menyalahkan kakaknya begitu cepat padahal kakaknya selalu memikirkan mereka walaupun harus kesusahan.

Jadi teman – teman, apa yang dilihat mata belum tentu benar, apa yang didengar oleh telinga, belum tentu jelas. Pakai hati untuk menyingkap segala sesuatu, pakai pikiran untuk melihat dari sisi yang lain.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *