Sekeping Koin Mengantarnya Menjadi Miliarder. Bagaimana Dia Mewujudkannya? Simak Kuncinya!

Ada seorang pemuda, menangkap seekor tikus, lalu dijual ke apotek, dan dia mendapat satu keping (koin) tembaga.

Sebuah cerita tentang sekeping koin, ketika dia berjalan ke taman, tanpa sengaja dia mendengar para tukang kebun sedang kehausan, dan dari sini pun dia mendapatkan ide.

Berbekal satu keping koinnya itu, dia membeli sedikit sirup dan air kemudian memberikannya pada tukang kebun.

ILUSTRASI. (Internet)

Usai minum, para tukang kebun itu masing-masing memberinya seikat bunga.

Lalu dia menjual bunga-bunga itu ke pasar dan mendapatkan delapan keping (koin) uang.

Suatu hari, badai angin mengamuk, di taman tampak daun-daun yang rontok berguguran tertiup angin kencang.

Pemuda itu berkata kepada tukang kebun, “Jika daun-daun ini diberikan padaku, saya bersedia membersihkan taman ini.”

Tukang kebun itu seketika mengangguk senang, “Boleh, kau ambil saja semuanya!”

Anak muda itu kemudian membeli beberapa permen dengan delapan koin uangnya, lalu dibagikan kepada sekelompk anak-anak yang sedang bermain ceria.

Anak-anak itu membantunya membersihkan setumpukan daun dan ranting yang berjatuhan di mana-mana.

Pemuda itu kemudian mendatangi koki istana (kerajaan) dan mengatakan ada setumpuk kayu bakar untuk dijual kepada mereka, dan koki itu pun membelinya dengan 16 koin tembaga untuk kayu bakar tersebut.

Berbekal 16 keping koin uang itu, si pemuda kemudian mulai mencari nafkah, dia membuka sebuah kedai teh/minuman yang tidak jauh dari kota.

Pikirnya, di sana ada sekitar 500 pemotong rumput di kebun, yang pasti membutuhkan air minum.

Tak lama kemudian, ia bertemu dengan seorang pedagang yang lewat dan minum di kedainya.

Pedagang itu berkata kepadanya, “Besok ada penjual kuda yang membawa 400 kuda ke kota.”

ILUSTRASI. (pixabay.com)

Mendengar keterangan pedagang itu, si pemuda merenung sejenak, lalu berkata kepada pemotong rumput, “Hari ini saya gratiskan minuman ini untuk kalian, tapi tolong kalian masing-masing memberi saya satu bal rumput kering, gimana?”

Para pekerja itu pun langsung mengangguk, berkata, “Boleh!”

Dengan begitu, si pemuda pun memiliki 500 bal rumput.

Keesokan harinya, pedagang kuda pun datang dan membeli pakan kuda, sang pedagang memberi 1.000 keping koin membeli 500 bal rumput si pemuda.

Beberapa tahun kemudian, pemuda itu pun menjadi taipan setempat yang terkenal.

ILUSTRASI. (bitconnectcoin.co)

Cerita di atas sangat sederhana dan menarik, keberhasilan anak muda itu bukan karena kebetulan, tapi dia memiliki kualitas manajemen modern.

Pertama, dia berpikir aktif.

Dia tahu persis bahwa untuk mendapatkan sesuatu dia harus berkorban.

Pertama dia memberi air ke tukang kebun. Tukang kebun itu mendapat keuntungan dan membalasnya. Ini juga merupakan pemikiran/kebijaksanaan yang saling menguntungkan.

Kedua, dia memiliki visi/pandangan jauh ke depan.

Dia tahu bahwa ranting pohon itu bisa dijual dengan harga bagus, tapi bagaimana cara mendapatkannya, ini juga ada ilmunya.

Jadi, dia pun mendapatkan sesuatu yang diinginkannya dengan menukar tenaga kerja.

Hal ini juga sejalan dengan norma sosial bekerja mendapatkan kekayaan.

Ketiga, dia memiliki kemampuan memanage/ mengelola/mengorganisir

Dia tahu betul sulit untuk menyelesaikan pekerjaan itu dengan kekuatannya sendiri.

Dia pun mengorganisir sekelompok anak-anak bekerja untuknya dan membayarnya dengan permen.

Ditilik dari sini, dia memiliki keterampilan kepemimpinan dan manajemen, dia mendapatkan keuntungan investasi yang lebih besar dengan biaya yang rendah.

Keempat, dia sangat menyadari dengan informasi yang didengarnya

Dia bisa menangkap peluang untuk menghasilkan uang dari pembicaraannya dengan pedagang.

Kemudian membeli sejumlah besar rumput kering dengan harga yang relatif rendah dan menjualnya dengan harga bagus.

ILUSTRASI. (krugerpark.co.za)

Hal ini sangat sejalan dengan perdagangan ekonomi di era informasi saat ini.

Kita semua ingin sukses, dan kekayaan itu ada di sekitar kita. Ada yang selalu berkeluh kesah rezekinya buruk, ada yang mengeluh tentang ketidakadilan sosial, dan yang menggerutu orang tua tidak tidak bisa apa-apa.

Sebenarnya, kekurangan kita sesungguhnya adalah ketekunan dan kecerdasan (pola pikir) dalam menemukan kekayaan (peluang). Semoga tercerahkan.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *