Wah! Cangkok Kepala Manusia? Tak Bisa Membayangkan Bila Benar-benar Terjadi!

Seorang ilmuwan asal Italia bernama Sergio Canavero dan profesor bedah syaraf dari Harbin bernama Ren Xiaoping menjadi sorotan media massa.

Hal itu karena diumumkannya di Vienna Austria pada 17 November lalu tentang operasi “ganti kepala” pada jasad manusia yang berhasil dilakukan.

Konon dokter yang berhasil melakukannya adalah Profesor Ren Xiaoping dan tim medis yang dipimpinnya, dengan memakan waktu 18 jam.

Di internet ada yang mengungkapkan bahwa operasi tersebut menelan biaya sampai 130 juta Yuan (Rp. 266 Miliar).

Menyambung pernyataan Canavero, nama Ren Xiaoping juga mencuat ke permukaan.

Pada berbagai pihak yang meragukan hal ini, di satu sisi Ren Xiaoping menanggapi, “Saya adalah seorang dokter, bukan seorang ahli etika. Saya hanya melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang praktisi ilmiah di bidang kedokteran.”

Di sisi lain ia menegaskan, yang telah mereka rampungkan adalah “rancang model operasi cangkok kepala manusia”, dengan kata lain ia menghindar dari pernyataan Canavero yang mengatakan bahwa telah dilakukan operasi “ganti kepala” pada jasad mati dan akan dikembangkan menjadi operasi cangkok kepala pada tubuh hidup.

Seorang spesialis bedah syaraf Italia bernama Sergio Canavero mengatakan, dirinya bekerjasama dengan tim dokter PKT berhasil melakukan eksperimen operasi menggantikan kepala dengan mayat manusia. (internet)

Pada Juni tahun lalu, surat kabar “New York Times” merilis artikel berjudul “Ganti Tubuh Bagi Pasien, Terobosan Atau Kegilaan Medis RRT?” yang mengatakan, Ren Xiaoping mempersiapkan operasi kepala bagi seorang petinggi yang lumpuh untuk menggantikannya dengan sebuah tubuh yang baru, dan operasi ini rencananya akan dilakukan pada 2017.

Kesampingkan dahulu tingkat kesulitan operasi ini, hanya dilihat dari sudut pandang etika kedokteran saja sudah sangat sulit untuk diterima.

Mencangkok kepala seseorang ke tubuh yang lain, apakah sebuah tubuh yang baru atau bagaimana? Bagaimana menetapkan statusnya?

Lahir – tua – sakit – mati, adalah siklus alam semesta, tak diragukan lagi, operasi “ganti kepala” telah melanggar siklus ini.

Selain itu, tidak hanya bagi yang hidup akan mengalami siksaan biologis yang tak tertahankan, memindahkan kepala ke jasad yang mati, juga tidak menghormati yang mati.

Ren Xiaoping yang menyatakan diri bukan ahli etika dan hanya seorang dokter, apakah tidak perlu seorang dokter bicara soal etika?

Yang lebih penting adalah, tidak ada orang meragukan, menelaah, melakukan uji coba, dan menerapkan operasi seperti ini tidak hanya sangat menghabiskan waktu, berbiaya mahal dan tingkat keberhasilannya sangat rendah.

Data menunjukkan, sejak tahun 1959, ilmuwan Uni Soviet Vladimir Demikhov pernah melakukan cangkok kepala seekor anjing pada tubuh anjing lain yang bertubuh utuh, dan “anjing berkepala dua” ini hanya hidup selama 7 hari lalu mati.

Tahun 1970, dokter AS bernama Robert J. White mencangkok otak besar seekor anjing pada tubuh anjing lain, setelah operasi grafik pergerakan otak menunjukkan bahwa aktivitas otak tersebut normal.

Kemudian ia melakukan operasi mengganti kepala pada seekor kera, tapi setelah itu “kera ganti kepala” tersebut mengalami lumpuh total dari leher ke bawah, tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan perintah dari otak.

Kalangan ilmiah gempar akibat eksperimennya itu. Para penganut paham anti pembedahan tubuh hidup bahkan mengancam akan membunuhnya.

White terpaksa harus meminta perlindungan polisi atas dirinya dan keluarganya. Sejak saat itu White yang tadinya seorang pelopor medis pun terlunta-lunta menjadi “penjahat ilmiah” di mata masyarakat, dan dana untuk penelitiannya pun dihentikan total.

Ren Xiaoping yang ada di RRT melakukan operasi “ganti kepala” pada tikus, setelah melakukannya pada seribu ekor tikus, tingkat keberhasilannya hanya 30% dan kasus yang disebut berhasil pun sebenarnya hanya hidup selama satu hari.

Jelas operasi seperti ini walaupun berhasil, hanya akan bermanfaat bagi segelintir orang saja, tidak akan bisa mendatangkan kesejahteraan bagi umat manusia.

Demi kepentingan segelintir orang dan menghabiskan dana begitu besar, serta dapat memicu timbulnya berbagai masalah, apakah teknik seperti ini layak untuk dikembangkan?

Yang menakutkan adalah, institusi ilmiah baik di Eropa maupun Amerika dan pemerintah AS sendiri tidak mendukung operasi yang penuh dengan kontroversi ini, mengapa Ren Xiaoping bisa memimpin timnya untuk terus melakukan riset ini selama 5 tahun lamanya? Dari mana asal pendanaannya?

Ren Xiaoping yang pernah studi di AS dan mendalami ilmu bedah cangkok sejak kembali ke RRT pada 2012, telah memulai operasi ‘ganti kepala’ sejak tahun 2013?

Apakah ada orang yang memutuskan untuk melakukan riset ini dengan mengerahkan dana tanpa batas?

Seorang spesialis bedah syaraf Italia bernama Sergio Canavero mengatakan, dirinya bekerjasama dengan tim dokter PKT berhasil melakukan eksperimen operasi menggantikan kepala dengan mayat manusia. (internet)

Terhadap komentar seorang pakar medis Beijing yang mengatakan “suka pamer akan operasi ganti kepala” berarti Tiongkok adalah “negara yang tidak memiliki batasan moral” dan mengatakan “hal ini adalah aib bagi kalangan medis Tiongkok”, mengapa Ren Xiaoping dan dalang di baliknya tidak merasa risih?

Ini tidak terlepas dari fakta gelap yang diungkap oleh konglomerat Tiongkok bernama Guo Wengui pada September lalu di Amerika tentang ‘perampasan organ tubuh manusia hidup-hidup dan membunuh sesuai kebutuhan’, dimana ikut pula melibatkan putra Jiang Zemin yakni Jiang Mianheng dan mantan sekjen Komisi Politik Hukum bernama Meng Jianzhu.

Dan pada 20 September lalu di internet muncul ‘perbincangan antara putra pejabat tinggi dengan staf Komisi Keamanan Negara’ juga menyangkut masalah ini.

Dalam perbincangan tersebut dikatakan, penguasa Partai Komunis Tiongkok (PKT) setelah menempati posisi puncak hanya memiliki dua tujuan.

Pertama adalah mempertahankan kekokohan rezim selamanya.

Kedua adalah mencari cara untuk hidup awet muda, hidup lebih lama dan hidup dengan kualitas yang lebih tinggi. Demi memperpanjang usia, bisa dengan menghalalkan segala cara.

Saat ini, para pejabat PKT tidak perlu khawatir soal ganti ginjal, liver, jantung, paru-paru, karena operasi cangkok organ di Tiongkok dalam hal ini sudah sangat maju, dimana di baliknya tersembunyi suatu kejahatan perampasan ogan tubuh manusia yang mengerikan.

Mengenai reaksi penolakan yang dialami pasien setelah melakukan operasi cangkok organ, para pejabat PKT bisa secara rutin melakukan cuci darah, atau ganti darah, dengan sumber darah dari para serdadu yang berusia muda.

Dan pejabat tinggi PKT yang mengimpikan awet muda, setelah cangkok organ maka ‘ganti kepala’ pun menjadi sasaran berikutnya, ini mungkin alasan bagi Ren Xiaoping dan timnya untuk melakukan riset ‘ganti kepala’ tanpa peduli berapa pun biaya yang dihabiskan.

Yang harus diingat para pejabat tinggi PKT adalah, mengandalkan teknologi yang dikembangkan dengan mengorbankan nyawa orang-orang yang tidak berdosa dan bertentangan dengan etika, tidak akan menjamin mereka dapat panjang umur dan awet muda.

Sebaliknya mereka telah menanggung dosa, dan cepat atau lambat akan menuai akibat perbuatannya.

Berbagai peristiwa sejak zaman dulu kala membuktikan, pembalasan tidak akan pernah ingkar janji, terlepas dari seseorang mempercayainya atau tidak.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *