Ibu Bersikeras Tidak Bersedia ke Kota, Sampai Pada Hari Pernikahanku, Tiba-tiba Ibu Hadir dan Kemudian Baru Aku Sadari Ternyata…

Ayahku meninggal lebih awal, ibu tidak menikah lagi, dia takut aku menderita, dan sejak itu, aku dan ibu pun hidup bersama.

Ibuku telah merasakan getirnya hidup yang tidak bisa dibayangkan, sampai berhasil merawat dan membesarkanku hingga dewasa.

Misalnya, ibu memikul batu bara bersama sekelompok pekerja pria, dan bukan main lelahnya setiap kali pulang sampai tidak bisa meluruskan pinggang, aku hanya bisa menangis sedih melihatnya sambil memijat punggungnya.

Atap rumah kami pasti bocor saat musim hujan, dan ibuku akan memanjat ke atap seperti pria dan menambal atap yang bocor.

Saat turun dari atap rumah, kedua kakinya akan gemetar karena takut. Tapi demi aku, dia bisa mengatasi segala kesulitannya.

Sejak kecil, diam-diam aku berjanji kelak setelah dewasa harus memberikan hidup yang nyaman pada ibu. Untuk tujuan ini, aku jauh lebih kuat hidup menderita dari anak-anak lainnya sejak kecil.

Aku tidak tega melihat ibu yang banting tulang setiap hari, sementara aku duduk nyaman di kelas, tapi ibu melarangku berhenti sekolah, memaksaku harus sekolah bagaimana pun juga.

Karena kondisi keluarga, setelah lulus SMP, aku pun bersikeras berhenti sekolah. Mengetahui hal ini, Ibu menangis selama beberapa hari, dan memukulku.

Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa puluhan tahun berlalu, aku yang sekarang juga lumayan sukses, aku membuka usaha sendiri sebuah perusahaan perjalanan. Dan aku pun memiliki pacar yang cantik dan baik hati.

Orangtua pacarku adalah guru, sebelumnya pacarku bekerja sebagai guide/pemandu wisata dan kami pun saling mengenal saat itu, kami berdua sekarang mengelola perusahaan wisata bersama.

Hubungan kami telah berjalan selama lebih dari dua tahun, orangtuanya terus mendesak kami untuk menikah. Aku pun membawa pacarku pulang ke rumah dan dikenalkan pada ibuku.

Dia sangat baik pada ibu, dan aku sempat kaget ketika melihatnya menyisir rambut ibuku, meski baru pertama kali kenal, sementara Ibu juga sangat gembira sambil menatap calon menantunya dengan mata berkaca-kaca.

Karena usahaku di kota, sehingga tidak bisa selalu menemani ibu, jadi aku mengajak ibu untuk tinggal di kota bersamaku, tapi ditolaknya. Ibu bilang, bagaimana pun juga tidak akan meninggalkan kampung halamannya.

Ibu jauh lebih tenang dan senang tinggal di kampung yang disukainya. Aku pun tak berdaya untuk membujuknya lagi, aku pun meminta sepupu untuk merawat ibu dan tak lupa aku selalu mengirim uang pada mereka.

Aku pun tidak khawatir lagi karena kupikir hubungan ibu dan kakak sepupu sangat baik.

Sementara itu, dari pihak keluarga mertua, mereka memutuskan untuk segera mengadakan pernikahan pada kami. Dan saya pun setuju untuk segera menaikah.

Namun tak disangka, menjelang pernikahanku, ada sedikit masalah di perusahaan.

Jadi dengan terpaksa aku harus segera keluar kota dulu. Tiga hari kemudian, pernikahan kami pun diselenggarakan.

Yang sangat aku sayangkan adalah ibu tidak bisa hadir dalam pernikahanku. Aku mendiskusikan dengan pacarku nanti mengadakan sekali lagi upacara pernikahan di desa, supaya ibuku bisa merasakan pernikahan anaknya.

Ilustrasi.

Dalam pesta perkawinan, tiba-tiba aku melihat ibu duduk di sana, ia mengenakan pakaian warna merah dan melihat sekeliling sambil tersenyum, mungkin sedang mencariku.

Aku bergegas menghampiri dan memeluk ibuku dan menangis seketika. Saat aku tanya kapan tiba dan siapa yang menjemputnya, ibu malah bertanya dengan kaget.

“Bukankah kamu yang menyuruh orang untuk menjemput ibu ?” Kata ibu

Aku menoleh ke istriku, istriku bilang karena aku sedang keluar kota, jadi orangtuanya menyuruh kedua sepupunya untuk menjemput ibu. Pernikahan adalah peristiwa besar, bagaimana boleh tanpa kehadiran ibumu-dan ibuku ! Kata istriku tersenyum bahagia.

Aku terharu seketika mendengar cerita istriku. Aku pun memeluk erat wanita yang akan hidup bersamaku seumur hidup ini mulai detik ini.

Aku menangis bahagia saking harunya dengan tindakan keluarga mertuaku yang perhatian, tidak melupakan kehadiran ibuku.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *