Menyentuh Sekali… Nasihat dari Ibu Mertua untuk Calon Menantunya, “Anda Siapkan Dulu “Mahar” Itu Baru Nikahi Putriku!”

 Kata-kata dari ibu mertua asal Malaysia untuk calon menantu prianya ini benar-benar meresap di hati.

Saya pikir, suatu hari nanti, kamu akan mengajak orang tuamu untuk melamar,
karena putriku sangat cantik, manis, berbakat, perhatian, singkatnya seperti dewi utusan Tuhan!

Apakah Anda ingin membicarakan tentang mahar dengan saya? Saya pikir Anda tidak akan mampu menyiapkan maharnya!

Mari kita bicarakan sejenak. Uang yang telah saya habiskan untuk putriku sejak kecil.

Anda tahu mengapa bahasa Inggrisnya sangat lancar? Kemana-mana tanpa hambatan yang berarti, bahasa Inggris, Jepang adalah makanannya sehari-hari.

Karena sejak kecil, uang yang dihabiskan setiap tahun untuk mata pelajaran bahasa Inggris dan Jepang itu lebih dari Rp. 200 juta.

Dia telah belajar setidaknya 10 tahun, dan menghabiskan lebih dari dua miliar untuk bidang bahasa saja.

Selain itu juga biaya les lainnya, dan asal tahu saja, kamu yang sangat suka melihat penampilannya yang menawan saat bermain piano itu juga menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Kalau dihitung secara kumulatif, biaya untuk kursus/belajar piano juga ada sekitar 4 miliar selama lebih dari sepuluh tahun.

Ada pun mengenai biaya studi setiap tahun, baik biaya sekolah di SMU swasta atau biaya kuliah di universitas swasta.

Selama beberapa tahun terakhir ini juga tidak kurang dari satu 2 miliar.

Belum lagi tiga kali makan sehari, dan biaya sehari-hari saat studi di luar negeri.

Apalagi saya tidak ingin “menjual” (menikah & menjadi bagian keluarga orang lain) putri saya untukmu.

Jadi, Anda tidak mungkin bisa menggunakan uang untuk membeli putri saya, karena nilai dari putri saya bukan hanya itu.

Di hatiku, dia adalahj pusaka yang tak ternilai harganya. Satu senyumnya itu adalah kado terbaik dalam hidupku.

Pijatannya yang lembut dan penuh perhatian itu tidak tergantikan oleh pemijat profesional,
Karena dari setiap jarinya, dipenuihi dengan cinta kasihnya, dan ada sentuhan di hatiku.

Setiap kristal air matanya itu adalah buah yang indah yang saling melarut karena konflik konstan saya dengannya.

 

ILUSTRASI. (Internet)

Kami tumbuh dalam pertengkaran, berdamai, dan saling memahami, dan semakin erat dalam sentuhan kasih sayang di antara kami.

 

Cinta kasih di antara kami itu tidak akah terputus oleh miliaran rupiah.

Karena itu, menantuku tersayang, kamu tidak akan sanggup membeli putriku meski kamu memiliki harta segunung.  Jadi, putriku tidak akan “dijual” kepadamu.

Dia hanya ingin menikah denganmu, membangun sebuah keluarga bersama denganmu.

Jadi, jangan bicara tentang mahar dengan saya, kamu tidak akan mampu memberinya, putri saya itu adalah pusakan yang tak ternilai.

Meski kalian sudah menikah, dan walaupun kalian tinggal di sebuah rumah kecil sendiri.

Dia tetap putri saya, dan saya tetap ibunya. Cinta dan kasih sayang di antara kami tidak akan pernah hilang.

Saya dan putri saya, masih akan tetap berinteraksi seperti dulu, saling mencintai dan berbagi seperti dulu.

Kalian terikat dalam janji setia pernikahan, dan pernikahan itu adalah pernyataan dua orang yang menyatu dalam ikrar cinta, dan selalu bersama seumur hidup.

Bukan menandatangani perjanjian budak pada salah satu pihak. Jadi, saya juga ingin kamu berjanji.

Memperlakukannya dengan sikap yang semestinya, bukan menjadikannya sebagai pelayan atau budak belian.

Sesuatu yang membuatmu sedih, dia juga akan merasakannya. Begitu juga dengan segala sesuatu yang membuatmu lelah, juga akan dirasakan olehnya.

Tolong curahkanlah perhatian kepadanya dengan pengertianmu.

Setelah saya renungkan kembali, saya masih ingin satu mahar lagi darimu, yaitu hatimu.

Bersedia menjaga putriku dengan kebaikan, empati dan cinta yang tak terbatas.

Meski putriku sekarang baru berusia 3 tahun. Namun, saya yakin suatu hari nanti kamu akan melihat artikel ini.

ILUSTRASI. (Internet)

Saya takut saat kamu datang mengajukan lamaran, saya sudah tua dan tidak ingat lagi kata-kata ini, jadi saya tulis dulu di sini.

Tolong siapkan dulu mahar yang kumaksud itu, yaitu hatimu. Bagi Anda yang memiliki anak perempuan, apakah memiliki pandangan yang sama dengan kata-kata terkait di atas.

Jika suatu hari nanti, putri saya benar-benar mendapatkan calon yang bisa saling mencintai hinga akhir hayat.

Saya rasa, kita akan mengutarakan kata-kata yang sama, berharap dia (calonnya) bisa menyayanginya bak pusaka yang langka.

Jika pria yang sudah menikah kebetulan membaca artikel ini, jangan lupa isteri di rumah anda itu juga putri kesayangan orang lain!

Bagi pembaca yang bisa memahami isi artikel ini pasti setuju dengan kata-kata seorang ibu dari Malaysia ini.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *