Mengharukan… Kisah Mengenai “Tiga Karung Beras.” Mata Anda akan Berkaca-kaca Setelah Membacanya!

Ini adalah sebuah kisah nyata, kisah tentang kegetiran hidup sebuah keluarga yang sangat sengsara.

Saat anaknya baru duduk di sekolah dasar, sang ayah meninggal, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya ini hidup saling menopang.

Mereka mengantar sang ayah ke peristirahatan terakhir dengan setumpuk tanah.

Sang ibu tidak menikah lagi sejak kematian mendiang suaminya. Dengan susah payah, dia membesarkan anaknya.

Saat itu belum ada aliran listrik di kampung, anaknya terpaksa belajar dibawah temaran cahaya lampu minyak, sementara ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuknya.

Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun pun berganti, ketika aneka piagam demi piagam menghiasi dinding penahan, sang anak pun bak pohon bambu di musim semi, perlahan-lahan tumbuh dewasa.

Melihat anaknya yang sudah tumbuh besar, terlihat senyum penuh makna di antara kerutan dari sudut mata sang ibu.

Saat memasuki musim gugur, anaknya berhasil lulus sekolah menengah atas.

Tetapi justru saat itulah sang ibu menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah, dan terkadang tidak cukup untuk makan.

Saat itu, setiap siswa harus memberikan 15 kg beras ke kantin sekolah. Sang anak mengerti ibunya tidak bisa memberikan beras itu.

“Bu, saya mau berhenti sekolah dan membantu ibu bekerja di sawah,” kata anak itu.

Ibunya mengelus kepala anaknya dan dengan penuh kasih sayang.

“Ibu senang kamu memiliki niat seperti itu, tetapi bagaimana pun juga kamu tetap harus sekolah. Jangan khawatir, kalau ibu sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjagamu. Kamu daftar dulu di sekolah, nanti ibu akan membawa berasnya ke sana,”kata ibu”.

Namun, sang anak tetap bersikeras tidak mau sekolah, ibunya kembali mengulangi, tapi anaknya tetap saja keras kepala.

Kali ini sang ibu pun seketika menampar anaknya, dan ini adalah pertama kalinya dia dipukul oleh ibunya.

Anaknya akhirnya pergi juga ke sekolah, sang ibu memandang bayangan anaknya yang semakin menjauh sambil merenung.

Tak lama kemudian, dengan terpincang-pincang dan nafas tersengal-sengal, ibunya datang ke kantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.

Pengawas yang bertanggung jawab mencatat dan menimbang beras kemudian membuka kantongnya, lalu mengambil segenggam beras dan melihat-lihat, kemudian mengerutkan kening.

Dia berkata, “Kalian para orangtua selalu suka mengambil keuntungan kecil, coba lihat, di sini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin ini tempat penampungan beras campuran.”

ILUSTRASI. (hindustantimes.com)

Wajah sang ibu pun seketika merona merah merasa malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Pengawas pun tidak banyak berkata lagi, akhirnya menerima beras sang ibu.

Awal bulan berikutnya sang ibu memikul sekantong beras dan masuk ke dalam kantin.

Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat-lihat berasnya, keningnya tampak berkerut, lalu berkata, “Masih dengan beras yang sama”.

Pengawas itu pun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan pada ibu ini dan kemudian berkata, “Tak peduli beras apa pun yang ibu berikan, kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna.
Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak akan menerimanya.”

Mendengar itu, sang ibu tampak panik dan memohon, “Ibu pengawas, beras di rumah kami semuanya seperti ini, jadi bagaimana?”

Pengawas itu pun tampak serba salah, dan balik bertanya, “Satu hektar lahan ibu bisa menanam berapa jenis beras ? benar-benar menggelikan.”

Mendapat pertanyaan seperti itu sang ibu pun akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Pada awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali ke sekolah. Sang pengawas langsung naik pitam melihat beras yang dibawa si ibu, dan dengan ketus berkata padanya.

“Aduh ibu, anda sebagai ibu kenapa begitu keras kepala sih? Kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu!” Cetus pengawas.

 

Sang ibu sepertinya sudah menduga, lalu dengan berlinang air mata ia pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata, “Maafkan saya bu, jujur saja sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”.

Pengawas tampak terkejut mendengar perkataan si ibu, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Si ibu duduk di atas lantai, lalu menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sambil menyeka air matanya, si ibu berkata, “Saya menderita rematik stadium akhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.”

Dia menjelaskan lagi kepada ibu pengawas, selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada di kampung sebelah.

Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya kalau sampai diketahuinya.

Setiap hari pagi-pagi buta, diam-diam sambil membawa kantong kosong, ia berjalan tertatih-tatih ke desa yang jauh untuk mengemis, dan sampai hari sudah gelap baru secara diam-diam kembali lagi ke desa.

Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan ke sekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, tanpa disadari, mata pengawas itu pun berkaca-kaca dan meneteskan air mata.

ILUSTRASI. (Internet)

Kemudian memapah ibu tersebut, dan berkata, “Ibu yang baik, sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu.”

Sang ibu buru- buru menolak.

“Jangan, jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bantu saya menjaga rahasia ini. “Ingat! ingat!” Pesan si ibu sambil berjalan pergi dengan tertatih-tatih.

Akhirnya hal itu diketahui oleh kepala sekolah. Kemudian secara diam-diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun.

Tiga tahun kemudian, anak didiknya berhasil lulus masuk ke National Tsing Hua University, Beijing, Tiongkok.

Pada hari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang anak dari si ibu duduk di atas tempat duduk utama.

Anak itu merasa bingung, ada beberapa murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya dia yang diundang ke atas podium?

Dan lebih aneh lagi, di atas podium terdapat tiga kantong beras. Dan pada saat itu, pengawas naik ke podium dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi sekolah anaknya.

ILUSTRASI. (assets-cdn.ekantipur.com)

Sementara itu, suasana tampak hening di bawah podium. Kepala sekolah kemudian menunjuk ke tiga kantong beras itu, dan dengan penuh haru berkata, “Inilah tiga karung beras hasil mengemis sang ibu dalam cerita tadi, adalah makanan yang tidak dapat dibeli dengan uang. Berikut kami persilahkan ibu yang mulia ini untuk naik ke atas podium.”

Dengan bingung, si anak dari ibu yang mulia itu melihat gurunya menuntun ibunya berjalan ke atas podium. Kita tidak tahu apa yang sedang dipikirkan anak itu pada saat ini.

Saya percaya kejutan untuknya itu tidak kalah dahsyatnya dengan gelora ombak yang bergemuruh. Dan pemandangan yang hangat menyentuh itu pun bisa kita saksikan sekarang.

Ibu dan anak pun saling bertatapan. Pandangan mata si ibu tampak hangat dan lembut memandang anak yang dikasihinya, dan seketika anaknya pun memeluk erat ibunya sambil berteriak “Ibu…”

Tiga karung beras di atas atas mencerminkan kasih sayang seorang ibu yang begitu besar kepada anaknya.

Mungkin tidak semua orang tua bisa seperti ibu dalam ceriita tersebut di atas yang memikul beban berat untuk anaknya.

Tetapi kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya itu sama. Budi orangtua sulit untuk bisa kita balas, mereka memberi kita kehidupan yang tak tergantikan!

Pepatah mengatakan, “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang zaman dan sepanjang kenangan”

Inilah kasih seorang ibu yang terus dan terus memberi kepada anaknya tanpa pamrih.

Hati mulia seorang ibu demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian di masa depannya.

Mulai sekarang, katakanlah kepada ibu dimanapun ibu kita berada dengan satu kalimat,“Terima kasih Ibu.. aku mencintaimu, aku mengasihimu. .. selamanya”.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *