Gairah Seksual Selaras dan Obsesif

Sejumlah hal yang menjadi ukuran untuk gairah seksual yang selaras adalah, “Seks selaras dengan hal-hal lain yang menjadi bagian saya,” “Seks terintegrasi dengan baik dalam hidup saya,” dan “Seks selaras dengan kegiatan-kegiatan lain dalam hidup saya.”

Sebaliknya, mereka yang memiliki gairah seksual bersifat obsesif tidak memiliki seksualitas yang terintegrasi dengan keseluruhan diri mereka. Dorongan seksualnya malah tetap terpisah dari area lain dalam diri dan ranah lain dalam hidup mereka.

Hal tersebut mengarah kepada tujuan-tujuan yang lebih sempit, misalnya kepuasan seks secara segera (contoh, orgasme), dan menggiring kita kepada desakan yang memperlakukan seks sebagai tujuan yang memaksa kita sekedar melakukan – bukannya mengendalikan – seksualitas kita.

Sejumlah hal untuk mengukur gairah seksual yang obsesif misalnya, “Seks adalah satu-satunya hal yang menyemangati saya,” dan “Menurut kesan saya, seks mengendalikan saya.”

Melalui sejumlah studi, para peneliti mendapati bahwa dua bentuk gairah seks tersebut – obsesif dan selaras – memiliki perbedaan gamblang dalam hal pemrosesan informasi seksual dan caranya orang mengalami kegiatan seksual.

Selagi berlangsungnya kegiatan seksual, gairah obsesif berkaitan dengan emosi-emosi negatif. Di luar senggama, gairah seksual obsesif berkaitan dengan pemikiran yang mengganggu tentang seks, konflik dengan tujuan-tujuan lain, perhatian kepada pasangan alternatif, dan kesulitan berkonsentrasi kepada tujuan saat itu karena secara tidak sadar membayangkan citra orang lain yang atraktif secara seksual.

Gairah seksual obsesif juga berkaitan dengan pemrosesan informasi secara bias. Orang-orang yang meraih angka tinggi dalam gairah seksual obsesif lebih berkemungkinan memandang tujuan seksual dalam interaksi sosial yang ambigu dan juga memandang seksualitas dalam kata-kata yang tidak secara jelas memiliki konotasi seksual semisal “juru rawat”, “hak tinggi”, dan “seragam.”

Gairah seksual obsesif juga berkaitan dengan tindakan-tindakan kekerasan di bawah ancaman penolakan romantis dan juga khayalan berlebih tentang hubungan romantis seiring perjalanan waktu.

Sebaliknya, gairah seksual yang harmonis menunjukkan integrasi yang lebih baik dengan aspek-aspek menyenangkan dalam diri dan ranah-ranah lain dalam kehidupan.

Misalnya, para peserta penelitian diminta untuk menuliskan sebanyak mungkin kata-kata dalam 1 menit dan berkaitan dengan kata “seks.”

Mereka yang meraih angka tinggi dalam gairah seksual selaras menuliskan cukup banyak kata yang berkaitan dengan seks. Tapi, mereka memiliki profil yang lebih seimbang antara representasi yang murni seksual (misalnya “penis”, “payudara”, “vibrator”) dengan representasi seksual-relasional (misalnya, “keintiman”. “belaian”, “senggama”).

Faktanya, angka 2 menjadi rasionya. Saat kata-kata seksual setidaknya 2 kali lebih banyak dari kata-kata seksual-relasional, maka ada peningkatan besar dalam gairah seksual obsesif yang berbarengan dengan penurunan gairah seksual selaras.

Orang yang mendapatkan angka tinggi untuk gairah seksual selaras juga menunjukkan kendali yang lebih besar atas dorongan seksual mereka. Ketika secara tidak sadar dihadapkan kepada rangsangan seksual (misalnya seorang yang rupawan), mereka masih bisa tetap pada tugasnya untuk membedakan obyek alamiah dan artifisial.

Gairah seksual selaras juga berkaitan dengan lebih sedikitnya pemikiran seksual yang mengganggu dan tidak berkaitan dengan perhatian kepada pasangan-pasangan alternatif. Integrasi yang lebih baik dan ketiadaan konflik itu mengarah kepada mutu hubungan yang lebih baik seiring berjalannya waktu.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *